DEMAK – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Demak menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan khidmat di Aula MAN Demak pada Selasa, 20 Januari 2026. Mengusung tema “Peningkatan Iman dan Penyegaran Hati: Menjadikan Salat sebagai Gaya Hidup”. Acara ini bertujuan untuk mempertebal keimanan santri agar memandang ibadah salat sebagai sebuah kebutuhan, bukan sekadar kewajiban rutinitas.
Dalam sambutan pembuka, H. Mohamad Sholeh yang mewakili Ketua Program Islamic Boarding School (IBS) Mamba’ul Qur’an (MQ), menekankan betapa sakralnya peristiwa sejarah ini. Ia menyebut bahwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan yang sangat mulia yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW.
Senada dengan hal tersebut, H. Nur Kamsan, S.Ag., M.Pd., dalam penyampaiannya menekankan pentingnya aktualisasi nilai ibadah dalam keseharian. Menurutnya, mampu menjadikan salat sebagai gaya hidup adalah sebuah pencapaian spiritual yang luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW di zaman modern ini.

Hadir sebagai pembicara inti, Wildan Badruz Zaman, S.Ag., M.Pd., memberikan motivasi khusus kepada para santri IBS-MQ. Beliau berpesan agar para santri senantiasa berbangga hati dan istikamah dalam menghafal Al-Qur’an.
“Para penghafal Al-Qur’an kelak akan mendapatkan keistimewaan berupa syafaat di hari akhir. Selain itu, perlu diingat bahwa buah utama dari perjalanan luar biasa Isra Mi’raj adalah turunnya perintah kewajiban salat lima waktu,” ujar Wildan di hadapan ratusan santri.

Makna dan Refleksi Isra Mi’raj
Peristiwa Isra Mi’raj dimaknai sebagai mukjizat agung yang memamerkan kebesaran Allah SWT serta keistimewaan kedudukan Nabi Muhammad SAW. Secara teologis, perjalanan ini merupakan fondasi utama bagi umat Muslim dalam menjalankan rukun Islam yang kedua, yakni salat.
Melalui kegiatan ini, keluarga besar MAN Demak berharap ada penyegaran hati di kalangan siswa dan santri. Dengan menjadikan salat sebagai gaya hidup, diharapkan karakter disiplin dan spiritualitas siswa dapat meningkat secara berkelanjutan.